Ada satu anekdot yang menyatakan bahwa jika Anda seorang pesepakbola
yang ingin kariernya panjang, jadilah seorang bek kiri. Memang, di saat
striker, gelandang, atau pemain sayap mendulang banyak pujian karena
aksi individunya, seorang fullback jarang dapat sorotan.
Namun, jarangnya pemain yang mampu mengisi pos ini menjadikan fullback
lebih memberi peluang bagi para pesepakbola yang menginginkan kepastian
bermain.
Meski hanya berupa anekdot, cerita tentang langkanya pemain dengan kaki
kiri dominan yang mampu bertahan bukan hal baru lagi. Coba lihat saja
Brendan Rodgers yang lebih memilih untuk menempatkan Glen Johnson
(seorang bek kanan) atau Daniel Agger (bek tengah) saat Jose Enrique tak
bisa bertanding. Atau, bagaimana Philipp Lahm yang acap digunakan
sebagai bek kiri sebelum akhirnya David Alaba ditarik dari lini tengah
oleh Jupp Heynckes.
Maka jika hampir 10 tahun nama Ashley Cole tetap jadi jawaban atas
pertanyaan siapakah bek kiri terbaik di dunia saat ini, sesungguhnya ini
bukan hal aneh lagi.
Lalu apa sebenarnya yang menyebabkan langkanya pemain bek kiri
dalam dunia sepakbola? Jawabannya sederhana. Jumlah pemain berkaki kiri
dominan memang jauh lebih sedikit, sehingga yang mampu, atau memilih
jadi bek kiri, akan jauh lebih minim lagi.
Tak tanggung-tanggung, perbandingan jumlah antara pemain dominan kaki
kiri dengan pemain "berkaki" kanan pun bisa mencapai 1 banding 4. Ini
terlihat dari satu studi terhadap 236 pemain yang berlaga di Piala Dunia
1998. Penelitian ini menyatakan bahwa 79% pesepakbola di turnamen
tersebut acap menggunakan kaki kanan dalam menerima dan memberikan
umpan. Sementara itu, hanya 21% yang fasih menggunakan kaki kiri.
Studi-studi serupa memberikan angka yang berbeda. Namun, rata-rata
menyatakan bahwa jumlah pemain berkaki kiri kurang dari 30% dari total
pesepakbola keseluruhan.
Sedikitnya jumlah pemain berkaki kiri ini, menurut Gianluca Vialli, jadi
salah satu penyebab adanya paradigma bahwa bek kanan akan diisi pemain
terburuk dalam tim.
Analoginya begini: jika seorang pesepakbola memiliki kemampuan bertahan
yang baik dan tinggi badannya di atas rata-rata, maka ia akan
diposisikan sebagai bek tengah. Sementara mereka-mereka yang memiliki
teknik penguasaan bola mumpuni akan ditempatkan sebagai pemain tengah.
Maka pemain yang tersisa, pemain yang skill bertahan maupun menyerangnya
biasa-biasa saja, acap dipasang sebagai bek kanan. Pemain berkaki kiri
tentu beda. Ia akan diberi perlakukan istimewa karena memang jumlahnya
yang sedikit.
Fullback dan Sepak Bola Modern
Terlepas dari permasalahan jumlah pemain yang minim, evolusi peran bek
kiri dalam sepak bola modern sendiri tak bisa dilepaskan dari hakikatnya
sebagai fullback. Juga tak bisa putus dari relasinya terhadap posisi
lain dalam tim, serta perkembangan taktikal dewasa ini.
Misalnya saja tentang permainan yang semakin menyempit ke tengah
lapangan seiring dengan populernya penggunaan formasi 4-2-3-1. Dengan
kecenderungan ini, maka fullback jadi posisi yang paling mendapatkan
ruang untuk berlari, sementara pemain lainnya menumpuk di tengah
lapangan. Menjadi tugas fullback untuk "turun-naik" dan jadi outlet
penyerangan, serta memperlebar ruang permainan.
Ini terutama terjadi pada tim-tim yang menggunakan peran inverted-winger
sebagai salah satu strategi dalam menyerang. Pemain sayap yang bergerak
menusuk ke area kotak penalti akan lebih efektif saat ia berkombinasi
dengan fullback untuk menciptakan situasi 2 lawan 1 dengan fullback
lawan.
Ilustrasi yang pas untuk menggambarkan ini adalah musim pertama Pep Guardiola di Barcelona.
Dengan mendatangkan Dani Alves dari Sevilla, Pep menjadikan kombinasi
Lionel Messi-Alves sebagai tumpuan serangan utama Blaugrana. Messi yang
berlari menusuk ke dalam, serta Alves yang tetap berjaga dekat garis
lapangan, kerap membuat bingung fullback yang mengawal keduanya.
Mengikuti Messi bergerak ke dalam berarti memberikan ruang bagi Alves
untuk melancarkan umpan silang.
Sementara tetap berjaga di pinggir lapangan berarti membiarkan Messi
melakukan tendangan dengan kaki terkuatnya, yaitu kaki kiri. Bek tengah
terdekat pun tak leluasa untuk bergerak terlalu kedepan, karena bisa
dimanfaatkan oleh ujung tombak atau playmaker merangsek naik ke dalam
kotak penalti.
Dengan cara ini, Alves mencatatkan 10 kali assist (beberapa di antaranya
key-assist: assist pencipta gol pertama atau gol kemenangan), dan jadi
salah satu pemain terbaik Barca di musim tersebut.
Cara ini juga yang kemudian digunakan oleh Del Bosque ketika Spanyol
kehilangan akal untuk membobol gawang lawan. Jesus Navas sering
dimasukkan ke lapangan untuk menarik fullback lawan sehingga ada celah
bagi Iniesta untuk mengirimkan umpan terobosan.
Ya, berbeda dengan pemain sayap yang sering mendapatkan umpan di area
pertahanan lawan, acap kali "lari" yang dilakukan oleh fullback sendiri
tak berujung pada penguasaan bola bagi dirinya sendiri. Lari yang tidak
egois. Namun lari ini penting dilakukan untuk dua hal: untuk menciptakan
ruang bagi pemain sayap, serta untuk menjadi tujuan umpan bagi pemain
tengah, pemain sayap, atau bahkan kiper sekalipun.
Menjadi Bugar dan Pintar
Implikasi menarik dari perkembangan peran fullback ini, selain bek
kiri-kanan yang dituntut untuk memiliki kemampuan passing mumpuni,
adalah pada kondisi fisik pemain.
Dengan menjadi outlet penyerangan, dan dengan memiliki ruang berlari
terpanjang, otomatis fullback lah yang kini mengemban peran sebagai
pemain box-to-box. Merekalah yang kini mesti terbiasa dengan lari
sprint, baik dalam jarak pendek maupun panjang.
Karena itu, fullback dituntut untuk memiliki level kebugaran lebih
tinggi dari pemain lainnya. Ketahanan fisik untuk sprint mengejar musuh,
sering kali dari lini pertahanan lawan ke garis gawang sendiri, di
menit-menit akhir pertandingan tentu jadi faktor krusial yang mesti
dimiliki seorang fullback.
Jika seorang striker masih bisa bermalas-malasan saat kondisi fisiknya
menurun dalam satu pertandingan, kemewahan ini tak didapatkan oleh para
fullback. Terutama karena ada ruang yang ditinggalkan oleh fullback saat
ia naik untuk membantu penyerangan.
Maka tak heran jika dalam sesi latihan, fullback mendapatkan porsi lari
lebih banyak. Biasanya berupa sesi lari dari satu ujung bendera sudut ke
sudut lainnya.
Selain kebugaran, salah satu kemampuan lainnya yang dituntut dari baik
bek kanan dan kiri adalah kemampuan untuk mengenali bagaimana pemain
tengah atau pemain sayap dalam tim ingin bermain. Simaklah penuturan
Glen Johnson mengenai hubungannya dengan pemain lainnya di Liverpool
pada musim 2008/2009:
"Jika saya bermain dengan Maxi Rodriguez atau Dirk Kuyt, saya tahu saya
bisa berlari menyerang kapanpun. Ini karena mereka akan cutting inside
dan memberikan saya ruang, juga memberikan bantuan saat bertahan. Tapi
Ryan Babel lebih sering dribbling dan menggunakan area sayap lapangan,
sehingga tugas saya lebih untuk membantunya," ujar Johnson kepada
majalah Four Four Two.
Sulit Tergantikan
Terkait dengan berkembangnya peran fullback jadi lebih menyerang inilah,
bek kiri lebih sulit tergantikan dibandingkan dengan rekannya di kanan.
Mensubstitusi seorang bek kiri dengan center-back tentu bisa dilakukan.
Tetapi ini dengan resiko menghilangkan potensi sisi penyerangan, karena
tak semua center-back memiliki insting untuk mendobrak maju.
Sementara itu, menarik seorang pemain tengah menjadi bek akan lebih
berbahaya. Ini disebabkan tak semua pemain tengah memiliki kemampuan
bertahan untuk menghadapi pemain sayap. Apalagi menghadapi
inverted-winger berkaki.
Sebagai contoh, lihat saja bagaimana kesulitannya Javier Mascherano di
Barcelona untuk menghadapi serangan balik dari kiri, saat Jordi Alba
masih berada di depan. Atau, matinya serangan dari sayap kiri Liverpool
saat Daniel Agger diplot untuk menggantikan Jose Enrique. Pemain asal
Denmark ini lebih sering bertahan menjaga basisnya ketimbang naik untuk
membantu Stewart Downing atau Raheem Sterling di kiri.
Sektor kanan pertahanan umumnya tak memiliki kesulitan dalam hal ini.
Masing-masing tim relatif memiliki cadangan bek kanan yang kualitasnya
tak jauh dari pemain inti.
Di Eropa sendiri mungkin hanya Real Madrid yang jadi klub dengan dua bek
kiri berkualitas hampir sama dalam diri Marcelo dan Fabio Coentrao.
Sementara Manchester United masih mengandalkan Patrice Evra, Man. City
dengan Gael Clichy, Barcelona dengan Alba, dan Bayern Munich dengan
David Alaba.
Begitu pula dengan Chelsea yang juga tetap mengandalkan Ashley Cole.
Maka jika harga Gareth Bale atau Leighton Baines kemudian meroket
tinggi, ini bukan hal yang aneh lagi.
Lalu bagaimana kah caranya menghentikan bek kiri yang kerap naik untuk
membantu penyerangan? Cara pertama yang bisa dilakukan adalah memasang
defensive winger yang langsung menghadang serangan. Satu taktik yang
melahirkan generasi baru pemain sayap yang fasih bertahan seperti James
Milner, Park Ji Sung, atau Dirk Kuyt
Sementara yang kedua, adalah dengan menggunakan winger yang memang fasih
men-dribble, memiliki yang akselerasi baik, atau yang kerap mencetak
gol. Dengan cara ini, fullback pun akan berpikir dua kali jika ingin
meninggalkan posnya tak terjaga.
http://www.kaskus.co.id/thread/520a38bd1acb17bd0a000004/kenapa-posisi-bek-kiri-itu-langka-dalam-sepakbola/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar